04 Mei 2008

Dinasti Buwaihi (928-1008 M) Kebangkitan Budaya dan Politik Iran Islam

Islam Intelektual-Bersamaan dengan kekuasaan Nuh bin Nasr, Dinasti Saman terlibat konflik dengan orang-orang dari Suku Daylam di kota Al-Jibal (Ray). Putra Nasr bin Ahmad bin Ismail Samani berambisi menguasai kembali wilayah Ray. Secara de jure, kawasan Ray telah dikuasai oleh orang-orang Suku Daylam. Ternyata tidak mudah bagi Nuh bin Nasr untuk menaklukkan suku ini. Malah sebagian pasukannya sewaktu menyerbu Ray membelot berpihak kepada Suku Daylam. Rezim Saman pun kalah menghadapi suku ini.

Ibnu Abi As-Saj, Gubernur Azerbaijan, mengundurkan diri pada tahun 926 M. Bersama pasukannya, dia menuju ke Irak untuk menaklukkan gerakan ekstrimis Kaum Qaramithah (Syi’ah Zaidiyah). Kekosongan kekuasaan ini dimanfaatkan dengan baik oleh Mardavij bin Zayyar. Tahun 927 M Mardavij berhasil menaklukkan Ray dan Isfahan.
Mardavij tidak sendirian dalam hal ini. Untuk membangun kekuatan militer yang tangguh, dia merekrut para nelayan dari tepi pantai Laut Kaspia. Mereka inilah yang dikenal sebagai Suku Daylam. Di antara mereka yang direkrut oleh Mardavij adalah Ali bin Buya, putra seorang nelayan dari klan Buwaihi. Dua saudara Ali, Hasan dan Ahmad, turut juga bergabung. Bersama Suku Daylam, Mardawij berhasil menaklukkan Persia pada tahun 932 M.
Rupanya, keberhasilan merebut wilayah Persia lebih banyak didominasi oleh peran orang-orang Buwaihi. Wajar jika Ali bin Buya berambisi untuk melepaskan diri dari kekuasaan Mardavij bin Zayyar. Setelah Mardavij meninggal dunia, dia tidak memiliki pengganti yang cukup cakap. Kesempatan baik ini dimanfaatkan oleh Ali bin Buya. Dia mengambil alih kekuasaan dengan amat mudah. Pasca meninggalnya Mardavij bin Zayyar, kedudukan Ali bin Buya makin kokoh di Ray dan Persia.
Sistem pemerintahan Dinasti Buwaihi tidak independen seperti Dinasti Saman. Ali bin Buya masih mengakui otoritas Baghdad sebagai pusat kekuasaan Dinasti Abbasiyyah, sekalipun pada waktu itu sudah amat lemah. Ali bin Buya terus berusaha mendapat simpati dan dukungan politik dari Khalifah Al-Mustakfi (berkuasa 944-946 M).
Jabatan para penguasa Dinasti Buwaihi tidak lain sebatas gubernur, bukan khalifah. Ini jelas berbeda dengan status jabatan penguasa beberapa dinasti sebelumnya di Persia.
Albert Hourani (2004) menjelaskan bahwa, para penguasa Dinasti Buwaihi banyak menyandang gelar dinasti Persia Kuno. Seperti gelar “Syahansyah” (Rajadiraja). Penelitian arkeologis telah menemukan sebuah medali bertahun 969 M bahwa, para penguasa Dinasti Buwaihi menggunakan gelar “Syahansyah” (Rajadiraja). Dengan demikian, Dinasti Buwaihi termasuk generasi penerus peradaban Persia Kuno, seperti halnya Dinasti Saman, yang bermaksud mengembalikan kejayaan orang-orang Arya.
Kekompakan tiga bersaudara, Ali, Hasan, dan Ahmad turut menentukan bagi keberhasilan dinasti ini dalam mengembangkan wilayah kekuasaannya. Dengan didukung oleh para tuan tanah dari Suku Arrajan di Persia, Ali dan saudara-saudaranya menancapkan kekuasaan di Ray dan Persia. Hingga pada tahun 945 M, dengan kekompakan tiga bersaudara ini, orang-orang keturunan Buwaihi berhasil menguasai seluruh Persia, Irak, dan Ray.
Oleh Al-Mustakfi, ketiga bersaudara keturunan klan Buwaihi ini mendapat beberapa gelar kehormatan: Ali bin Buya mendapat gelar Imad Ad-Daulah (Tiang Negara); Hasan bin Buya mendapat gelar Rukn Ad-Daulah (Penopang Negara); dan Ahmad bin Buya mendapat gelar Mu’iz Ad-Daulah (Penegak Negara).
Menurut Syafiq Mughni (2002), wilayah kekuasaan Dinasti Buwaihi memang lebih menyerupai sebuah federasi ketimbang kerajaan. Kekuasaan Dinasti Buwaihi memang lain dengan kekuasaan orang-orang keturunan Saman Khuda (Dinasti Saman). Unit-unit kekuasaannya lebih dipusatkan di kota-kota besar. Seperti kekuasaan di Persia dipusatkan di kota Syiraz dan Isfahan. Kekuasaan di Ray dipusatkan di kota Al-Jibal. Dan, kekuasaan di Irak dipusatkan di kota Baghdad, Bashrah, dan Mosul.
Dalam perjalanan berikutnya, rezim Buwaihi terus mendapat tekanan politik dari orang-orang keturunan Saman Khuda. Setelah Ray dan Isfahan berhasil diambil-alih oleh orang-orang Buwaihi, Nuh bin Nasr, putra Nashr bin Ahmad bin Ismail Samani, berusaha merebut kembali wilayah kekuasaannya. Terjadilah pertempuran sengit antara pasukan Hasan bin Buya (Rukn Ad-Daulah) dengan pasukan Nuh bin Nasr. Pada peristiwa ini, pasukan Dinasti Saman justru memihak kepada orang-orang Buwaihi. Akibatnya Nuh bin Nasr kalah telak.
Pasca kekalahan menaklukkan wilayah Ray, Dinasti Saman berkoalisi dengan Dinasti Hamdan di Mosul. Nuh bin Nasr meminta bantuan kepada para penguasa Mosul (Dinasti Hamdan) lewat mediator Ibrahim bin Ahmad, pamannya sendiri. Hasilnya cukup memuaskan karena pada tahun 944 M, Dinasti Saman berhasil merebut kembali wilayah Ray. Tetapi, para keturunan Buwaihi terus menggerogoti kekuasaan Nuh bin Nasr di Ray. Ali bin Buya (Rukn Ad-Daulah), penguasa Dinasti Buwaihi di Syiraz memberikan dukungan kepada Abu Ali yang memberontak pada tahun 950 M.

Komentar :

ada 0 komentar ke “Dinasti Buwaihi (928-1008 M) Kebangkitan Budaya dan Politik Iran Islam”

Reader Community

 
This Blog is proudly powered by Blogger.com | Template by Angga Leo Putra